Senin, 26 Mei 2014

Tugas TOU 2 Minggu 3


SOSOK PEMIMPIN YANG TERKENAL

Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mancapai tujuan organisasi. Salah satunya adalah Raden Ajeng Kartini, meskipun ia tidak berjuang menggunakan senjata tetapi jasanya yang telah memperjuangkan hak-hak para wanita dan pendidikan wanita sehingga sekarang wanita tidak lagi berstatus sosial yang rendah. Dalam dunia modern dengan fokus kepada kompetensi dan performance, gender sudah bukan merupakan faktor pembeda dominan, meski secara physical, pria dan wanita memang berbeda secara natur dan biologis. Dahulu pekerjaan yang di dominasi kaum pria sekarang dapat dikerjakan oleh kaum wanita dengan sangat baik. Lalu apa yang sebenarnya harus diperhatikan oleh kaum wanita dewasa ini untuk memelihara apa yang sudah diwariskan oleh R.A Kartini sebagai tokoh pelopor kebangkitan perempuan?
Kunci keberuntungan RA Kartini dalam menembus batas perbedaan kaum pria dan wanita saat itu terletak pada kebebasan untuk mengenyam pendidikan Belanda di ELS (Europese Lagere School) dan sekaligus kesempatan belajar bahasa Belanda walau setelah usia 12 tahun, RA Kartini harus tinggal di rumah karena tradisi dipingit. Bahasa Belanda ini kemudian membawa RA Kartini untuk berkorespondensi, bertukar pikiran dan menyerap pengetahuan terkini pada waktu itu melalui buku, koran dan majalah Eropa. Dan tercetuslah ketertarikan RA Kartini pada kemajuan berpikir perempuan Eropa yang didorong kondisi perempuan pribumi saat itu yang berada pada status sosial yang rendah.


A. BIOGRAFI
Raden Adjeng Kartini atau yang lebih tepatnya Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh suku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau lahir di Jepara, 21 April 1879 dan meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.
Raden adjeng Kartini adalah seorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putrid Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putrid dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School) sampai umur 12 tahun. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
Disini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Karena sudah bisa berbahasa Belanda, maka di rumah Kartini mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensinya yang berasal dari Belanda. Dari buku-buku, Koran, majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Dari hal tersebut timbullah keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
Oleh orang tuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebelah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojodhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian,  17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Beliau dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Crirebon, dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini” . Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

B. PERJUANGAN
Perjuangan R.A. Kartini adalah merintis perubahan bagi kaum wanita. Beliau tidak segan-segan turun ke bawah bergaul dengan masyarakat biasa untuk mengembangkan ide dan cita-citanya yang hendak merombak status sosial kaum wanita dan cara-cara kehidupan dalam masyarakat dengan semboyan: “ Kita harus membuat sejarah, kita mesti menentukan masa depan kita yang sesuai dengan keperluan serta kebutuhan kita sebagai kaum wanita dan harus mendapat pendidikan yang cukup seperti halnya kaum lelaki. Dengan pengetahuan serta pengalaman yang didapatnya, Raden Ajeng Kartini secara berangsur-angsur dan setahap demi setahap tapi pasti berusaha menambah kehidupan yang layak bagi seorang kaum wanita. 
Walaupun sudah menikah Raden Ajeng Kartini tetap gigih untuk tetap memperjuangkan pendidikan bagi kehidupan anak – anak di sekitar tempat tinggalnya. Raden Adipati Joyoningtat pun turut serta melancarkan perjuangan Raden Ajeng Kartini.Peranan Suami, dalam usaha Raden Ajeng Kartini Meningkatkan perjuangan sangat menentukan pula karena dengan dorongan dan bantuan suaminya beliau dapat mendirikan sekolah kepandaian putri dan di sanalah beliau mengajarkan tentang kegiatan wanita, seperti belajar jahit-menjahit serta kepandaian putri lainnya. 


Usaha-usaha Raden Ajeng Kartini dalam meningkatkan kecerdasan untuk bangsa Indonesia dan kaum wanita, khususnya melalui sarana-sarana pendidikan dengan tidak memandang tingkat dan derajat, apakah itu bangsawan atau rakyat biasa. Semuanya mempunyai hak yang sama dalam segala hal, bukan itu saja karya-karya beliau, persamaan hak antara kaum laki-laki dan kaum wanita tidak boleh ada perbedaan. Beliau juga mempunyai keyakinan bahwa kecerdasan rakyat untuk berpikir, tidak akan maju jika kaum wanita ketinggalan. Inilah perjuangan Raden Ajeng Kartini yang telah berhasil menempatkan kaum wanita d tempat yang layak, yang mengangkat derajat wanita dari tempat gelap ke tempat yang terang benderang. sesuai dengan karya tulis beliau yang terkenal, yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

C. KEPEMIMPINAN
Dalam hal kepemimpinan, Raden Ajeng Kartini memiliki gaya kepemimpinan yang demokratis. Gaya kepemimpinan seperti ini merupakan gaya kepemimpinan yang memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan bersama antara pimpinan dan bawahan. Gaya ini kadang-kadang disebut juga gaya kepemimpinan yang terpusat pada anak buah, kepemimpinan dengan kesederajatan, kepemimpinan konsultatif atau partisipatif. Pemimpin berkonsultasi dengan anak buah untuk merumuskan tindakan keputusan bersama. Adapun ciri-cirinya sebagai berikut :
  • Wewenang pemimpin tidak mutlak
  • Pimpinan bersedia melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan
  • Keputusan dan kebijakan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan
  • Komunikasi berlangsung secara timbale balik, baik yang terjadi antara pimpinan dan bawahan maupun sesama bawahan
  • Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para bawahan dilakukan secara wajar
  • Prakarsa dapat datang dari pimpinan maupun bawahan
  • Banyak kesempatan bagi bawahan untuk menyampaikan saran, pertimbangan atau pendapat
  • Pimpinan memperhatikan dalam bersikap dan bertindak, adanya saling percaya, saling menghormati

Kartini dapat dikatakan mempunyai gaya kepemimpinan yang difokuskan untuk mendukung pertumbuhan serta peningkatan faktor-faktor lainnya pada kaum wanita dengan memadukan pengembangan keahlian dan bertindak sebagai sumber daya untuk kebutuhan nasehat serta informasi, dimana nasehat dan informasinya tersebut  terdapat pada buku yang telah beliau hasilkan,”habis gelap terbitlah terang”. 
Setidaknya terdapat empat hal menarik yang dapat ditemukan dalam karakter seorang R.A Kartini pada proses pembelajaran makna perjuangan serta kepemimpinannya. Pertama, Bagaimana Kartini dapat mengemukakan pikirannya dengan lugas dan cerdas. Hal ini terlihat pada contoh bagaimana beliau dapat menyampaikannya dengan baik bahwa budaya bangsawan Jawa yang kaku menghalangi kemajuan wanita Jawa. Cara penyampaiannya yang cerdas menarik banyak simpati publik terutama pihak pemerintah Belanda yang sedang melakukan kebijakan politik etis. Dimana Kartini menyampaikan ide dengan baik juga terlihat dalam keberhasilannya di kemudian hari, sehingga ide membuka sekolah didukung penuh oleh orang-orang terdekatnya.
Kedua, R.A. Kartini memiliki jiwa kepemimpinan dan kepedulian sosial yang sangat tinggi. Di tengah ketidakberdayaan wanita pada zamannya, beliau tidak jatuh pada hidup yang meratapi nasib melainkan menjawab permasalahan dengan membuka sekolah untuk perempuan.sebagaimana dikatakan oleh Harsey and Blanchard yang menyatakan bahwa kepemimpinan perlu disesuaikan dengan para kesiapan pengikutnya. Dimana kaum wanita pada saat itupun memiliki kesiapan untuk lebih berfikir lebih maju seperti beliau.
Ketiga, R.A. Kartini memiliki cara berpikir analitis dan strategis. Beliau dapat membaca situasi sosial masyarakat, dalam hal ini dapat melihat bagaimana pengaruh bangsawan dalam melakukan aksi nyata menuju arah yang lebih baik. Seperti yang dikatakannya bahwa apabila kaum bangsawan melakukan perubahan maka rakyat kecil akan mengikutinya.

D. KEUNGGULAN DALAM PERJUANGANNYA
Jika kita mengingat jasa Kartini dalam membebaskan wanita dari keterbelengguan serta ketidaktahuan akan pendidikan, maka saat ini terlihat jelas bukti nyata dari pahlawan wanita ini. Wanita-wanita saat ini justru jauh lebih sukses dibandingkan pria. Meskipun terkadang pria sukses juga akan tetapi ada wanita hebat yang mendukungnya dari belakang. Kartini tidak pernah mengajarkan kepada wanita untuk bersembunyi dibalik pria dan menggantungkan sepenuhnya kepada pria akan tetapi mengajarkan kepada wanita agar berdiri di samping pria untuk membantu pria dalam meraih kesuksesan. Sebab, kesuksesan pria tidak akan pernah jauh dari kehebatan seorang wanita yang membantunya, baik langsung maupun tidak langsung. Selain itu, Kartini juga menekankan kepada wanita-wanita Indonesia untuk tidak hanyut dalam kelemahan namun menjadikan kelemahan sebagai bentuk untuk memacu diri dalam berusaha. Baik itu berusaha meninggalkan kebodohan dengan terus belajar maupun berusaha agar menjadi panutan dalam kondisi apapun. 

Wanita memang lemah namun tidak menjadikan kelemahan tersebut sebagai alasan untuk bermanja-manja bahkan bermalas-malasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Betapa banyak wanita yang memiliki ketekunan yang tinggi serta kemauan yang keras untuk maju dan berhasil menjadikan mereka memiliki nama yang harum seharum nama Kartini. Sosok Kartini yang sesungguhnya bukanlah Kartini yang kemudian mampu mengangkat senjata dan melawan seluruh penjajah negara. Sosok wanita yang memiliki rasa sayang kepada wanita-wanita Indonesia akibat kelemahan yang telah menjadi kodrat dari-Nya. Kelemahan itu dijadikannya justru sebagai senjata untuk menjadikan bangsa ini merdeka dari penjajahan dan penindasan akan hak kaum wanita. 
Kartini sudah memberikan kebebasan kepada wanita untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin tidak lain hanyalah untuk menciptakan generasi-generasi penerus bangsa yang lahir dari rahim wanita-wanita cerdas bangsa ini. Kartini memberikan hukuman kepada kaum pria yang melakukan kekerasan terhadap istrinya di dalam sebuah rumah tangga karena wanita memiliki tulang rusuk yang bengkok dan harus diluruskan dengan jalan kelembutan dan kebaikan. Bahkan Kartini tidak pernah membatasi wanita dalam hal pekerjaan wanita itu sendiri asalkan masih berada dalam konteks kewajaran dan tidak melanggar kodrat wanita sebagai makhluk mulia dan lemah.

Sumber :

0 komentar:

Posting Komentar